Tuesday, 1 January 2013

sebungkus permen dan kesalahan kita

http://dokumenrifky.blogspot.com/2013/01/sebungkus-permen-dan-kesalahan-kita.html



Sebagian dari kita mungkin pernah membaca kisah ini atau kisah lain yang semisalnya, akan tetapi perbolehkan saya untuk mengulanginya kembali kisah ini, semoga kita mendapatkan hal yang baru, atau mungkin dapat mengingatkan kembali kisah yang telah lama terhapus oleh masa lalu kita.
Kisah ini menceritakan : suatu hari ada seorang wanita yang sedang duduk menunggu diruang tunggu bandara
internasional, ia menunggu jadwal penerbangannya, dalam penungguan panjang tersebut ia memutuskan untuk pergi ke toko untuk membeli buku dan sebungkus permen, agar keduanya dapat membantu menghilangkan kejenuhan hingga tiba saat penerbangan, setelah membayar belanjaannya ia kembali ke tempat duduknya semula. Saat ia terlena dalam bacaan buku yang ada dihadapannya, ia merasa ada seorang wanita muda yang duduk disampingnya telah mencuri satu plastic permen yang telah diletakkan disebelah tempat duduknya.

Wanita tersebut mencoba melupakan masalah ini, akan tetapi ia semakin merasa terganggu dengan perlakuan pemudi tersebut yang terus menerus ikut makan dan mengambil permen dari plastic yang ada diantara tempat duduk keduanya, tanpa izin dan dengan senang pemudi itu menyantap permenku ungkapnya dalam hati, amarah wanita itu mulai menjalar ke seluruh tubuhnya hingga menguasai ubun-ubunnya, tapi ia masih tetap mencoba tenang dan hatinya berbisik : andaikata aku bukan wanita yang baik hati, maka aku akan memberikan pelajaran yang pantas bagi pemudi yang tak tahu diri ini !

Kejadian terus berlangsung beberapa detik, dan setiap kali ia menjulurkan tangannya mengambil permen dalam plastic ia mendapatkan tangan pemudi itu juga memungut dan memasukkan permen itu ke dalam mulutnya, seketika itu pemudi itu tersenyum saat memandangnya, hingga pada akhirnya pemudi itu mendapatkan satu biji permen yang tersisa di dalam plastic itu, ia keluarkan dan ia potong menjadi dua bagian, satu bagian untuk wanita yang sedang asyik membaca buku dan bagian lainnya ia kunyah sendiri, wanita itu hendak menghardik pemudi itu dan seketika itu panggilan terdengar bahwa pesawat yang akan ditumpanginya telah dibuka pintunya untuk boarding.

Lalu wanita itu bergegas beranjak dari tempat duduknya tanpa menoleh sedikitpun kepada pemudi yang duduk disebelahnya, ia angkat semua tas dan berlalu tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sesampainya di tempat duduknya, ia mulai memasukkan tasnya pada tempat yang tersedia diatas tempat duduknya, tapi ia terkejut saat membuka tasnya dan mendapatkan sebungkus permen yang telah dibelinya masih utuh dan ada ditas tangannya, sehingga ia tersadar bahwa satu plastic permen yang ia santap diruang tunggu tadi adalah permen milik pemudi itu, dan pemudi itu mau berbagi dengan tersenyum dan penuh sopan, dan ternyata ia yang telah mencuri, ia yang telah mengambil hak orang lain tanpa izin, ia yang patut dihardik dan ia yang patut dimaki.

Begitulah kisah berakhir, mungkin sebagian dari kita pernah menyimak dan membaca kisah diatas, akan tetapi yang ingin aku kemukakan dan ingin aku ringkaskan bagi kalian dan terutama bagi diriku sendiri, bahwa hendaknya kita jangan tergesa-gesa menghukum dan menuduh orang lain yang ada disekitar kita, baik itu keluarga, saudara, teman dan semua manusia, terkadang setelah berlalunya waktu kita banyak melakukan kesalahan, dan keputusan yang telah kita ambil salah dan salah, terkadang kita berlaku dzalim terhadap mereka sebab keputusan kita yang tergesa-gesa, terutama manusia yang paling dekat kepada kita.

Dan berapa banyak kita berpegang teguh kepada keputusan kita, tanpa berusaha memberikan kesempatan kepada orang lain untuk memuaskan kita dengan pendapatnya dan yang pada akhirnya pendapatnya yang benar, maka kita telah bertindak salah, melukai perasaannya dan menyakitinya. Tapi yang lebih susah dari itu, betapa banyak kita mengetahui kesalahan kita setelah itu, tapi kita tetap sombong dan tidak mau meminta maaf, dan kita tidak peduli seakan-akan hal itu tidak pernah terjadi, sehingga terus terjadi penjarakan antara kita.

Tulisan ini ditujukan buat diriku sendiri sebelum dialamatkan kepada orang lain, hendaknya kita selalu berfikir bukan hanya sesekali, sebelum kita mengambil keputusan terhadap orang lain. Yang terpenting dari itu semua adalah ketika kita menemukan kesalahan pada tindakan dan keputusan kita, maka hendaknya kita segera membenahi kesalahan kita, karena manusia tidak luput dari kesalahan.

Translate